Berdamai Dengan Diri Sendiri Itu Indah
Tiba-tiba aku teringat kehidupanku pada masa lalu.
Dahulu aku adalah sosok perempuan yang egois, apapun yang diinginkan harus terwujud.
Yaa aku sadar itu tidaklah baik, tapi aku merasa bahagia walaupun hanya sejenak setelah semua tercapai.
Tak mengerti mengapa keegoisan itu ada pada diriku? Yang aku ingat, dulu dalam hidupku apapun yang dikerjakan olehku selalu salah, selalu di banding-bandingkan dengan orang lain.
Hidup hanya dalam bayangan orang lain, aku seperti tidak memiliki jati diriku yang sebenarnya.
Saat itu, aku mulai menanamkan dendam, kecewa dan sakit hati kepada orang yang telah menyakitiku baik sengaja maupun tidak sengaja.
Ada rasa dalam diriku untuk membalas semua perlakuan mereka kepadaku, yang merendahkanku, yang menghinaku, yang berkata tidak sebenarnya tentang diriku. Ingin rasanya aku membalas semuanya. Menyakiti mereka supaya mereka merasakan apa yang pernah kualami.
Aku pernah menceritakan ini kepada temanku, yang dijawab dengan "tidak baik balas dendam, nanti berdosa, nanti hidup tidak tenang, lebih baik mengiklaskan"
Hatiku menolak untuk mendengar jawaban itu.
Dalam diriku berkata "aku bukan orang yang kuat hatinya, aku bukan malaikat yang bisa diam saja dengan semua perlakuan mereka kepadaku, aku tidak munafik, aku benci mereka" hanya itu yang ada dalam hatiku.
Aku berfikir juga "Apa salahnya? Aku hanya membalas apa yang mereka lakukan, sama kan? Impas kan?
Tapi kalian tidak pernah mau dibalas kan? Kalian hanya ingin menyakiti orang tetapi kalian tidak mau disakiti. Kalian juga egois, apa bedanya kalian dengan aku? Apa?? "
Semua bergejolak dalam hatiku, pikiranku.
Saat aku mencoba untuk membalas, aku yang kalian salahkan. Kalian bilang aku jahat tidak memiliki hati, semuanya kalian luapkan. Bahkan dari A sampai Z kalian ucapkan, dari orang yang tidak ikut campur menjadi ikut menghakimiku.
Tetap aku yang salahkan?
Lantas ini bukan jadi alasan untuk tidak membalasnya kan? Karena hasilnya sama saja.
Sampai aku tidak pernah bercerita dengan siapapun lagi, aku tidak sanggup dengan semua saran kalian.
T'lah lama aku melewati semuanya sendiri.
Aku berusaha untuk mencoba menurunkan emosiku, sulit memang. Tapi aku selalu mencoba, gagal lagi gagal lagi dan gagal lagi. Emosiku tak tertahankan lagi. Pikiranku hatiku benar-benar kalut, aku hancur.
Sempat terlintas dalam benakku untuk mengakhiri semuanya karena aku tak sanggup.
Tapi saat aku dalam posisi terendah dalam hidupku, kamu hadir sebagai penolongku. Yaa kamu, kamu membawa secerca harapan baru untukku. Kamu yang memintaku untuk berdamai dengan diriku sendiri dan membantu menopangku saat dalam masa-masa sulit. Saatnya perlahan aku harus bangkit dari segala keterpurukkanku.
Mencoba untuk memaafkan apapun yang mereka lakukan, mencoba untuk tidak mengambil hati dengan segala perkataan mereka. Walaupun ada saja saatnya, hatinya menjadi sakit kembali. Namun perlahan mulai menata hati, pikiran dan perkataanku kepada semua orang dan membangun diriku yang baru pada suasana yang baru juga.
Seperti terlahir kembali menjadi sosok yang tidak mementingkan semua perkataan orang, menjadi diri sendiri. Membangun diriku agar punya tujuan hidup yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan baru untuk orang lain.
Menanamkan kebaikan dengan selalu tersenyum dariku membuka mata sampai tiba malam hari saatku memejamkan mata kembali.
Yaa pada saat itu hanya ini yang bisa kulakukan, untuk mulai memperbaiki semuanya.
Terima kasih banyak untuk kamu, kamu yang mengajarkanku banyak hal, salah satunya yaa berdamai dengan diri sendiri ternyata lebih indah dan membuat hariku lebih berwarna dan masih banyak lagi pelajaran yang kamu berikan.
Tak bisa ku sebutkan semua, karena akupun masih mempelajarinya.
Ku yakin, aku bisa untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar